17.00 WIB
Bersama
terbitnya matahari pagi ini Aku merasakan kegelisahan yang tak kunjung padam.
Meski segala risau sudah ku tampik, namun cabiknya tak pernah hilang dari ulu
hati.
Aku,
Aku seorang perempuan yang entah orang lain menganggapku perempuan atau bukan.
Yang Aku tahu hanya satu, bahwa Aku seorang perempuan.
Namun
harapan orang lain tidak bisa satu per satu ataupun semuanya kupenuhi.
Karenanya banyak manusia lain yang tidak menghiraukanku, seperti tidak
menginginkanku ada didekat mereka barang sedetik. Hanya karena Aku tidak
menjadi seperti yang mereka mau. Namun jauh dari itu semua.. yah memang kuakui
jika Aku bukan seorang yang pantas diharapkan. Karena Aku memiliki banyak
keterbatasan. Seperti saat ini, keterbatasan yang Aku miliki membuatku tak
percaya diri.
A k
u b e n a r b e n a r t a k p e r c a y a d i r i
**
Sepersekian detik yang lalu mentari menemani lajuku menapaki hutan pinus
di belakang rumah. Indah. Yah hanya itulah satu-satunya akses jalan menuju tempatku
belajar. Rimbun, dingin, dan tidak banyak yang melalui jalan itu. Hanya
beberapa orang saja. Juga hanya pada jam dan hari-hari tertentu. Iya. Gubuk
gembira. Disanalah Aku belajar. Belajar segala hal, belajar banyak hal. Aku
mengetahui banyak hal juga mengamati segalanya dari berbagai sisi dan sudut
pandang dengan bimbingan Ibu Rasvara. Namun sayang, Aku belum bisa menjalani
apa yang telah Aku pahami. Sehingga orang lain selalu tidak menghiraukan Aku. Karena
lakuku yang tak pernah benar dan tak pernah berguna bagi mereka.
Hingga
suatu ketika jalanku melamban, detik itu adalah waktu dimana orang-orang ramai melintasi hutan pinus. Aku bahagia, mengamati
semua orang yang berlalu lalang berjalan menapaki jalan yang sama. Tapi,. Aneh,
benar-benar aneh. Tidak ada seorangpun yang menyapaku, bahkan mereka
memalingkan wajahnya saat Aku sapa mereka satu persatu.
“Sial.
Sombong sekali mereka!” keluhku di dalam
hati.
Sesaat
Aku terdiam,. Merasakan udara dan riuh lelaku orang yang tengah berlalu lalang.
Di tengah keramaian itu, Aku merasa benar-benar kesepian. Aku menerawang keatas
langit. Memikirkan dan mengingat-ingiat setiap kejadian yang pernah Aku alami
dahulu. Membandingkannya dengan kejadian yang Aku alami saat ini.
Aku
benar-benar iri melihat teman-temanku di Gubuk Gembira. Mereka selalu memainkan
sesuatu dengan satu dan lainnya. Namun tak pernah sekalipun mereka mengajakku
bermain. Kesedihanku selalu sama. Berangsur pedih- setiap detiknya.
Pernah
suatu ketika Aku mencoba menyapa mereka, dengan mendekati mereka dan
menampakkan senyum manisku. Aku melakukan itu dengan susah payah dan sekuat
tenaga, Aku juga telah menunjukkan sikap yang amat mengesankan, dan pasti
mereka senang.
Namun,
apa yang terjadi?
Mereka
malah melempariku dengan segala yang ada digenggamannya. Setelah itu, mereka
meninggalkanku.
**
Untungnya,
Aku tidak patah semangat. Sejak saat itu, Aku selalu berusaha melakukan yang
terbaik meski orang lalin tidak menganggapku. Aku selalu datang lebih pagi
untuk membersihkan Gubuk Gembira. Aku bisa lewat pintu mana saja meskipun
pintunya terkunci. Itu semua karena Aku telah belajar banyak hal.
Selain
itu Aku juga memutuskan untuk pulang paling akhir. Maklum, karena bangkuku
berada di tempat paling belakang dan Aku duduk sendirian.
Aku
melakukan semua itu tanpa mendapatkan pujian dan sanjungan dari mereka. Aku
benar-benar tidak mendapatkan apa-apa. Namun, Aku percaya bahwa setiap kebaikan
sekecil apapun itu, pasti akan mendapatkan ganjaran berupa kebaikan juga.
Selain
itu Aku juga berhenti menjahili teman-temanku yang benci kepadaku, dan Aku
benar-benar tidak lagi menginginkan jabat tangan dari mereka. Meski entah, apa
salahku.
Semakin
hari,. perlahan Aku mulai terbiasa dengan kehidupanku ini. Aku mulai bisa
tersenyum melihat orang-orang yang dulu senang menyapaku,. Kini mereka
benar-benar berpaling dariku. Perlahan Aku mulai terbiasa kehilangan
orang-orang tersayang,. Kehilangan
mereka meski mereka ada bersamaku. Kehilangan kasih sayang dan tegur sapa
mereka. Sungguh Aku telah terbiasa. Kini, Aku hanya bisa mengandalkan diriku
sendiri. Bukan siapa-siapa lagi. Kini, saatnya Aku berjuang seorang diri tanpa
kasih dan sayang keluarga,. Juga orang-orang disekitarku. Teman, tetangga,
guru, sahabat, semua hilang.
Semua
ini terjadi tepat satu minggu yang lalu,. Bukan salahku, sungguh Aku tidak tau
menahu muara kejadian itu. Pedih, ingatanku mengingatnya.. Hari itu adalah
ulang tahun Ibuku. Pukul 17.00 hutan pinus menjadi tempat yang amat gelap pada
jam-jam itu. Karena tidak ada penerangan yang dipasang di pinggir jalan. Namun Aku
tidak ketakutan sama sekali. Meskipun Aku bersalah karena pulang terlambat, Aku
tetap merasa bangga karena Ibu pasti tidak akan marah, dan Ibu pasti bahagia.
Karena meski pulang terlambat,. Aku telah membawa sebuah boneka lucu yang
diinginkan Ibu. Iya. Boneka Aina namanya. Aku membuatnya sendiri. Bu Rasvara
yang mengajariku membuat boneka itu hingga usai.
Sungguh
dengan perasaan bangga dan bahagia Aku mengayunkan kakiku di jalanan yang redup
dengan sinar matahari yang telah terbenam setengah tubuh.
Namun
tiba-tiba, senja yang elok menjadi waktu misteri untuk diriku. Karena “Brak!” Tetiba
Aku tidak lagi sadarkan diri setelah sedetik kusadari mobil menabrakku dari
belakang, di ujung hutan pinus. Mengerikannya, Aku dibuang,. Dan baru ditemukan
2 hari kemudian bersama boneka Aina yang masih Aku genggam. Aku hilang arah, meski
jasadku sudah dikuburkan. Iya. Aku adalah anak desa Hutan Pinus yang telah mati
satu minggu yang lalu. Aku menjadi seorang diri yang kesepian, hantu yang
benar-benar s e n d i r i
a n.
Komentar
Posting Komentar