Langsung ke konten utama

CERITA PENDEK

      17.00 WIB

Oleh: Kafaiza_

Bersama terbitnya matahari pagi ini Aku merasakan kegelisahan yang tak kunjung padam. Meski segala risau sudah ku tampik, namun cabiknya tak pernah hilang dari ulu hati.

Aku, Aku seorang perempuan yang entah orang lain menganggapku perempuan atau bukan. Yang Aku tahu hanya satu, bahwa Aku seorang perempuan.

Namun harapan orang lain tidak bisa satu per satu ataupun semuanya kupenuhi. Karenanya banyak manusia lain yang tidak menghiraukanku, seperti tidak menginginkanku ada didekat mereka barang sedetik. Hanya karena Aku tidak menjadi seperti yang mereka mau. Namun jauh dari itu semua.. yah memang kuakui jika Aku bukan seorang yang pantas diharapkan. Karena Aku memiliki banyak keterbatasan. Seperti saat ini, keterbatasan yang Aku miliki membuatku tak percaya diri.

A k u b e n a r b e n a r t a k p e r c a y a d i r i

**                                                 

Sepersekian detik yang lalu mentari menemani lajuku menapaki hutan pinus di belakang rumah. Indah. Yah hanya itulah satu-satunya akses jalan menuju tempatku belajar. Rimbun, dingin, dan tidak banyak yang melalui jalan itu. Hanya beberapa orang saja. Juga hanya pada jam dan hari-hari tertentu. Iya. Gubuk gembira. Disanalah Aku belajar. Belajar segala hal, belajar banyak hal. Aku mengetahui banyak hal juga mengamati segalanya dari berbagai sisi dan sudut pandang dengan bimbingan Ibu Rasvara. Namun sayang, Aku belum bisa menjalani apa yang telah Aku pahami. Sehingga orang lain selalu tidak menghiraukan Aku. Karena lakuku yang tak pernah benar dan tak pernah berguna bagi mereka.

Hingga suatu ketika jalanku melamban, detik itu adalah waktu dimana orang-orang  ramai melintasi hutan pinus. Aku bahagia, mengamati semua orang yang berlalu lalang berjalan menapaki jalan yang sama. Tapi,. Aneh, benar-benar aneh. Tidak ada seorangpun yang menyapaku, bahkan mereka memalingkan wajahnya saat Aku sapa mereka satu persatu.

“Sial. Sombong sekali mereka!”  keluhku di dalam hati.

Sesaat Aku terdiam,. Merasakan udara dan riuh lelaku orang yang tengah berlalu lalang. Di tengah keramaian itu, Aku merasa benar-benar kesepian. Aku menerawang keatas langit. Memikirkan dan mengingat-ingiat setiap kejadian yang pernah Aku alami dahulu. Membandingkannya dengan kejadian yang Aku alami saat ini.

Aku benar-benar iri melihat teman-temanku di Gubuk Gembira. Mereka selalu memainkan sesuatu dengan satu dan lainnya. Namun tak pernah sekalipun mereka mengajakku bermain. Kesedihanku selalu sama. Berangsur pedih- setiap detiknya.

Pernah suatu ketika Aku mencoba menyapa mereka, dengan mendekati mereka dan menampakkan senyum manisku. Aku melakukan itu dengan susah payah dan sekuat tenaga, Aku juga telah menunjukkan sikap yang amat mengesankan, dan pasti mereka senang.

Namun, apa yang terjadi?

Mereka malah melempariku dengan segala yang ada digenggamannya. Setelah itu, mereka meninggalkanku.

**

Untungnya, Aku tidak patah semangat. Sejak saat itu, Aku selalu berusaha melakukan yang terbaik meski orang lalin tidak menganggapku. Aku selalu datang lebih pagi untuk membersihkan Gubuk Gembira. Aku bisa lewat pintu mana saja meskipun pintunya terkunci. Itu semua karena Aku telah belajar banyak hal.

Selain itu Aku juga memutuskan untuk pulang paling akhir. Maklum, karena bangkuku berada di tempat paling belakang dan Aku duduk sendirian.

Aku melakukan semua itu tanpa mendapatkan pujian dan sanjungan dari mereka. Aku benar-benar tidak mendapatkan apa-apa. Namun, Aku percaya bahwa setiap kebaikan sekecil apapun itu, pasti akan mendapatkan ganjaran berupa kebaikan juga.

Selain itu Aku juga berhenti menjahili teman-temanku yang benci kepadaku, dan Aku benar-benar tidak lagi menginginkan jabat tangan dari mereka. Meski entah, apa salahku.

Semakin hari,. perlahan Aku mulai terbiasa dengan kehidupanku ini. Aku mulai bisa tersenyum melihat orang-orang yang dulu senang menyapaku,. Kini mereka benar-benar berpaling dariku. Perlahan Aku mulai terbiasa kehilangan orang-orang tersayang,.  Kehilangan mereka meski mereka ada bersamaku. Kehilangan kasih sayang dan tegur sapa mereka. Sungguh Aku telah terbiasa. Kini, Aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri. Bukan siapa-siapa lagi. Kini, saatnya Aku berjuang seorang diri tanpa kasih dan sayang keluarga,. Juga orang-orang disekitarku. Teman, tetangga, guru, sahabat, semua hilang.

Semua ini terjadi tepat satu minggu yang lalu,. Bukan salahku, sungguh Aku tidak tau menahu muara kejadian itu. Pedih, ingatanku mengingatnya.. Hari itu adalah ulang tahun Ibuku. Pukul 17.00 hutan pinus menjadi tempat yang amat gelap pada jam-jam itu. Karena tidak ada penerangan yang dipasang di pinggir jalan. Namun Aku tidak ketakutan sama sekali. Meskipun Aku bersalah karena pulang terlambat, Aku tetap merasa bangga karena Ibu pasti tidak akan marah, dan Ibu pasti bahagia. Karena meski pulang terlambat,. Aku telah membawa sebuah boneka lucu yang diinginkan Ibu. Iya. Boneka Aina namanya. Aku membuatnya sendiri. Bu Rasvara yang mengajariku membuat boneka itu hingga usai.

Sungguh dengan perasaan bangga dan bahagia Aku mengayunkan kakiku di jalanan yang redup dengan sinar matahari yang telah terbenam setengah tubuh.

Namun tiba-tiba, senja yang elok menjadi waktu misteri untuk diriku. Karena “Brak!” Tetiba Aku tidak lagi sadarkan diri setelah sedetik kusadari mobil menabrakku dari belakang, di ujung hutan pinus. Mengerikannya, Aku dibuang,. Dan baru ditemukan 2 hari kemudian bersama boneka Aina yang masih Aku genggam. Aku hilang arah, meski jasadku sudah dikuburkan. Iya. Aku adalah anak desa Hutan Pinus yang telah mati satu minggu yang lalu. Aku menjadi seorang diri yang kesepian, hantu yang benar-benar  s e n d i r i a n.          

 **

2018/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cendayam

  Aku tahu, ini bukan saatnya bertanya kabar satu sama lain..  Aku tahu, ini bukan saatnya saling bercengkrama antara satu sama lain..  Aku tahu, aku kelewatan.. Namun bukan hanya abang, aku juga merasakan cemas tak berkesudahan. Merasa resah pada sesuatu yang selalu berakhir dengan kata entah.  Aku tidak pernah berpikir jika persoalan cinta akan sangat berpengaruh pada kondisiku sekarang.  Tetapi setelah aku coba merenungi semua ini..  Aku merasa telah mengurung abang dalam duniaku tanpa ada celah untuk abang bisa melihat cahaya.  Entah masih dikira egois atau tidak..  Namun aku mau impianku dulu..  Dan aku gamau abang selalu terbebani ini..  Abang ingin sekali melihat secercah cahaya, kan?  Boleh aku buka pintunya sekarang ..?? Jika abang mau.. Abang bisa keluar, berlari, terbang, melompat sebebas abang bisa..  Aku disini ingin memperbaiki duniaku sesuai dengan lentera dalam mimpiku semalam..  Aku belum bisa ikut abang t...

Jika Hari Ini Ada Resah #script

 JIKA HARI INI ADA RESAH Jika hari ini ada resah, sabar dulu malahan bisa jadi nih. esok hari akan melebar jadi gelisah. Eh tapi bisa pula berubah jadi gundah. Atau malahan perasaan-perassaan itu akan memaksa kita untuk mengalah dan berujung   pada Insiden mengutuk diri.. hingga kemudian memutuskan untuk lelah. Iya. Polemik hidup semacam ini atau bahkan yang lebih parah dari ini pasti dijamin akan selalu ada, mau ga mau pasti ada nggapeduli semua itu kita harapkan atau tidak, karena semesta tidak perlu persetujuan kita untuk mebuat semua menjadi begini atau begitu. Semesta hanya melakukan tugasnya atas seizin Allah. Kun fayakun. Yang terjadi, terjadilah. Maka atas segala kejutan-kejutan dikemudian hari, apapun itu baik akan membuat senang ataupun sedih, akan membuat sengsara, binasa, bahagia selamat semoga kita lekas bisa jadi amnusia yang lebih baik dan dapat mempersiapkan diri bagi segala kemumgkinan yang ada. maka mari kita meniti kisah dengan senantiasa perkuat iman, kar...

PENYANDANG LUPA #script

PENYANDANG LUPA Pernahkah kau menoleh kebelakang melihat hari kemarin. Apakah kau masih ingat detilnya dari tiap pergantian detik ke menit.. menit menuju jam.. masih ingatkah kau apa saja yang telah kau perbuat.. pukul berapa kemarin kau makan, pukul berapa kemarin kau buang air kecil, berapa kali kau buang air kecil, Jika kau tanya Aku,akan Aku katakan bahwa "Aku lupa." Aku lupa apa yang telah terjadi padaku.. jangankan detik menit dihari kemarin.. detik menit setelah aku bangun tidur tadi pagi pun, aku sudah lupa. Aku tak ingat bahkan aku tak tahu apa saja yang telah kulakukan. Dalam hidup ada banyak hal kecil yang begitu mudah kita lupakan.. padahal itu semua adalah kenikmatan yang sangat mahal harganya. Saat ini kita lupa.. Namun pada saatnya tiba.., kelak ketika semua meminta pertanggungjawabannya kepada Kita.. apakah saat itu kita juga akan lupa.. jangan pernah siasati bahwa Allah sedang tidur, atau tak sedang memperhatikan kita.. Allah akan membuat bibir kita b...