KISAH MULUT KITA YANG SESUNGGUHNYA MENGANDUNG KHASIAT MUSTAJAB MESKI PEMILIKNYA DIJULUKI “TAK PUNYA ADAB” #NGERIGAKSIH
...
HUST! JANGAN ASAL BICARA.
HUST! JANGAN NGOMONG BEGITU.
HUST! GABOLEH GITU.
HEHH!! HATI-HATI.. ntar kejadian loh.
ASTAGHFIRUllAH> PERKATAAN ITU DOA LOH.
hihi
..
Sahabat peniti, pernah tidak kalian mendapat seruan-seruan
seamcam itu? rasa-rasanya setiap kita pasti pernah ya,. Sekali dua kali atau
bahkan sering nih.
Sebenarnya kata-kata seperti itu dihasilkan oleh para
leluhur kita. FYI bangsa indonesia adalah bangsa yang memiliki budaya tutur
luar biasa (bukan budaya baca) maka tahu
sendiri ya, jika saat ini minat baca bangsa kita rendah.. yah, karena budaya
yang dilahirkan dari awal pertama ialah budaya tutur. sehingga ucapan-ucapan yang
mereka hasilkan seringkali mengandung mantra-atau makna yang luar biasa
memiliki peran dan pengaruh besar pada zamannya. Masih ingat dengan syair
lir-ilir, dengan syair abu nawas, dengan pantun, puisi, karmina, balada, dan
lain-lainnya.. itu semua diviralkan melalui tuturan bukan tulisan.
Bahkan para pendakwah islam juga memasuki pulau jawa dengan
berdakwah menggunakan media-media tutur seperti pertunjukan pewayangan dan
lalinnya.
Selain karena masyarakat kita adalah penganut budaya tutur,
mari sejenak mundur pada 1400 tahun lalu, dimana wahyu Allah diturunkan kepada
nabi juga melalui tuturan. Didakwahkan melalui tuturan, baru kemudian khalifah
ustman yang memiliki ide membukukan Alquran.
Doa yang senantiasa kita panjatkanpun, juga baru akan
benar-benar menjadi permintaan apabila dituturkan kepada sang ilahi. Alquran yang
sudah kita punya pun, tidak akan ada maknanya jika tidak kita suarakan setiap
kalimatnya. Begitupula kaitannya dengan sebuah hadist yang berbunyi ........
“perkataan adalah doa” jika diteliti, ternyata perkataan yang kita ucapkan
tidak serta merta timbul akibat “keceplosan/ketidaksengajaan”
90% ucapan yang kita hasilkan adalah hasil diskusi otak,
skemata, dan saraf yang ada di dalam tubuh kita hingga kemudian disalurkan
kepada mulut kita dan terbitlah sebuah ucapan. Sehingga tidak ada istilah tidak
sengaja atau keceplosan.
..
Pada intinya, tujuan utama dari semua itu ialah agar kita
berbicara ataupun mengatakan sesuatu yang baik-baik. Kalo dulu tuh seringnya
temen-temen bilang ini karena di bumi ada banyak makhluk tak kasat mata seperti
malaikat, waliyullah, dan makhluk2 baik lainnya yang barangkali mengaminkan
ucapan kita saat mereka lewat.
Sahabat peniti, keren banget ya kalau ternyata Allah juga
mengaruniakan kepada kita sebentuk nikmat sebuah anggota tubuh yang mengandunng
khasiat mustajab meski pemiliknya dijuluki tak punya adab. Jadi tak pandang
bulu.. kepada siapapun, hendaknya kita bersikap yang baik. Agar seseorang tidak
sampai mengumpat atau berbicara buruk kepada kita, serta agar kita juga tidak
sampai mengumpat orang lain. Karena percaya atau tidak percaya, mitos atau
fakta nih. Seringkali perkataan yang kita ucapkan memang menjadi kenyataan—
aplagi ucapan yang diucapkan sepenuh hati beserta dengan emosi. Sering banget
ga sih. Kita lagi ngomongin sesuatu, tiba-tiba nyeletuk . eh kejadian
dikemudian hari. Tidak hanya itu, hasil
ucapan kita yang meskipun hanya “asal nyeletuk” nyatanya juga punya impact yang
besar. entah itu ke diri kita atau ke orang lain disekitar kita. ingat ya..
dalamnya laut dapat dikira, dalamnya hati siapa yang tahu.
Maka sayyidina Ali berkata. jika tidak bisa berbicara yang
baik, maka lebih baik diamlah.
Apalagi jika kita didera amarah, otomatis celetukan kita
akan mencerminkan perasaan kita. maka diam adalah lebih baik demi menghindari
celetuk mulut. Karena mulut dapat menusuk apa yang tidak dapat ditusuk jarum. J

Komentar
Posting Komentar